Selasa, 25 Desember 2012

pemeriksaan glukosa urine


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Glukosa, suatu gula monosakarida adalah salah satu karbohidrat terpenting yang digunakan sebagai sumber tenaga bagi hewa dan tumbuhan. Glukosa merupakan salah satu hasil utama fotosintesis dan awal bagi respirasi.
Glukosa merupakan sumber tenaga yang terdapat dimana-mana dalam biologi. Kita dapat menduga alasan mengapa glukosa, dan bukan monosakarida lain seperti fruktosa, begitu banyak digunakan. Glukosa dapat dibentuk dari formaldehida dalam keadaan abiotik sehingga mudah tersedia bagi sistem biokimia primitif.  Rendahnya glikosilasi ini dikarenakan glukosa yang kebanyakan berada dalam isomer siklik yang kurang relatif. Meski begitu komplikasi akut seperti diabetes, kebutaan, gagal ginjal, dan kerusakan saraf periferal, kemungkinan disebabkan oleh glikosilasi protein.

1.2  Tujuan Penulisan
v Untuk mengetahui pengertian dari pemeriksaan glukosa.
v Untuk mengetahui jumlah normal urine dan jenis-jenis pemeriksaan urine.
v Untuk mengetahui cara kerja dari pemeriksaan urine.

1.3  Rumusan Masalah
*    Apa yang dimaksud dengan pemeriksaan glukosa urine ?
*   Berapa jumlah normal urine dan apa saja yang termasuk pemeriksaan urine ?
*    Bagaimana cara kerja pemeriksaan glukosa urine ?

1.4  Manfaat Penulisan
Manfaat penulisan ini adalah untuk menambah wawasan tentang pemeriksaan glukosa pada urine. Manfaat yang lainnya yaitu agar bagi para pembaca dan kami sendiri selaku penulis makalah ini untuk mengenal tentang glukosa urine.

1.5  Metode Penulisan
Metode yang digunakan dalam makalah ini adalah metode kepustakaan yaitu, metode dengan mengambil data dari bahan pustaka yang relevan dan web.

BAB II
PEMBAHASAN


2.1  Pengertian
Tes glukosa urine adalah pemeriksaan pada sampel urine untuk mengetahui ada tidaknya glukosa pada urine.  Pemeriksaan ini termasuk penyaringan dalam urinalisis.
Glukosa mempunyai sifat mereduksi. Ion cupri direduksi menjadi cupro dan mengendap dalam bentuk merah bata. Semua larutan sakar yang mempunyai gugusan aldehid atau keton bebas akan memberikan reaksi positif. Na sitrat dan Na karbonat (basa yang tidak begitu kuat) berguna untuk mencegah pengendapan Cu++ . Sukrosa memberikan reaksi negative karena tidak mempunyai gugusan aktif (aldehid/ke ton bebas).
Glukosa dalam urin ditentukan dengan reaksi reduksi menggunakan reagen Benedict (terbaik), Fehling dan Nylander. Cara lainnya adalah menggunakan carik celup.
Reaksi benedict sensitive karena larutan sakar dalam jumlah sedikit menyebabkan perubahan warna dari seluruh larutan, sedikit menyebabkan perubahan warna dari seluruh larutan, hingga praktis lebih mudah mengenalnya. Hanya terlihat sedikit endapan pada dasar tabung.  Uji benedict lebih peka karena benedict dapat dipakai untuk menafsir kadar glukosa secara kasar, karena dengan berbagai kadar glukosa memberikan warna yang berlainan.

2.2 Tujuan Pemeriksaan
            Untuk mengetahui gula-gula urine yang tereduksi.
2.3 Prinsip Pemeriksaan
            Dalam suasana alkali kuat, gula-gula (reduktor) akan mereduksi cupri menjadi Cuprohidroksida (CuOH) yang berwarna kuning atau cupro oksida (CuO2) yang berwarna merah.
 
2.4 Metode Pemeriksaan
·         Fehling
Pereaksi ini dapat direduksi selain oleh karbohidrat yang mempunyai sifat mereduksi, juga dapat direduksi oleh reduktor lain. Pereaksi Fehling terdiri atas dua larutan, yaitu larutan Fehling A dan 1arutan Fehling B. Larutan Fehling A adalah larutan CuS04 dalam air, sedangkan larutan Fehling B adalah larutan garam K-Na-tartrat dan NaOH dalam air. Kedua macam larutan ini disimpan terpisah baru dicampur menjelang digunakan untuk memeriksa suatu karbohidrat. Dalam pereaksi ini ion Cu++ direduksi menjadi ion Cu+ dalam suasana basa akan diendapkan sebagai Cu 20.
Dengan larutan glukosa 1%, pereaksi Fehling menghasilkan endapan berwarna merah bata, sedangkan apabila digunakan yang lebih encer misalnya larutan glukosa 0,1%, endapan yang terjadi berwarna hijau kekuningan.

·         Benedict
Pereaksi Benedict adalah larutan yang dibuat dari campuran kuprisulfat, natrium karbonat dan natrium sitrat. Glukosa dapat mereduksi ion C++ ­kuprisulfat menjadi ion Cu+ yang kemudian mengendap sebagai Cu2O. Adanya natrium karbonat dan natrium sitrat membuat pereaksi Benedict bersifat basa lemah. Endapan yang terbentuk dapat berwarna hijau, kuning atau merah bata. Warna endapan ini tergantung pada konsentrasi karbohidrat yang diperiksa. 

2.5 Jumlah Urine
·         BayI                            :   30  -  500  ml
·         Anak ( 1-14 th )          :  500 – 1400 ml
·         Dewasa                       :  600 – 1600 ml
·         Anuria                         :   ≤ 100  ml
·         Oliguria                       :   100 – 600  ml
·         Poliuria                        :   > 1600 ml
 
2.6 Cara Kerja Pemeriksaan Glukosa Urine

Alat dan Bahan :

·         Gelas kimia
·         Tabung reaksi
·         Penjepit tabung
·         Pipet pasteur
·         Pipet ukur 1 dan 5 ml
·         Rak tabung
·         Bunsen
·         Reagen bennedict
·         Reagen fehling A
·         Reagen fehling B
·         Sampel urine

Cara kerja :
A.    Fehling
1.      Siapkan satu tabung reaksi yang steril dan bebas lemak
2.      Pipet 1 ml fehling A, ditambahkan 1 ml fehling B
3.      Tambahkan setengah ml urine, lalu dihomogenkan
4.      Panaskan dipenangas bunsen
5.      Amati perubahan warna yang terbentuk
B.     Bennedict
1.      Siapkan satu tabung reaksi yang steril dan bebas lemak
2.      Dimasukkan 8 tetes urine
3.      Tambahkan 5 ml reagen bennedict
4.      Panaskan dipenangas bunsen
            5.      Amati perubahan warna pertama yang terbentuk

Interprestasi hasil
Ø Fehling
Biru                                                     --
Hijau                                                   +
Ø Bennedict
Biru                                                     --
Hijau endapan kuning                         +
Kuning                                                            ++
Jingga                                                  +++
Merah bata endapan                            ++++

Perhatian :    membaca hasil harus segera setelah diangkat dan dikocok bila dibiarkan lebih lama hasilnya akan lebih positif.
Contoh hasil pengujian :
http://4.bp.blogspot.com/-PU6MC74-WXE/T7kT98p92fI/AAAAAAAAAC0/DCPfbNyCwxY/s1600/pengujian.jpg
Keterangan : glukosa dan fruktosa memiliki sifat pereduksi sehingga warna benedict berubah. Sedangkan sukrosa tidak memperlihatkan perubahan berarti, karena tidak mempunyai pereduksi. Pada gambar diatas sudah menunjukkan +4 karena berwarna merah bata.

2.7 Pembahasan

Kadar gula yang tinggi dibuang melalui air seni, dengan demikian air seni penderita kencing manis yang mengandung glukosa sehingga sering dilebung atau dikerebuti semut, selanjutnya orang tersebut akan kekurangan energi / tenaga, muda lelah, emas, mudah haus, dan lapar sering kesemutan, sering buang air kecil, gatal-gatal dan sebagainya
Kurang dari 0,1% dari glukosa normal disaring oleh glomerulus muncul dalam urin (kurang dari 130 mg/24 jam). Glukosuria (kelebihan gula dalam urin) terjadi karena nilai ambang ginjal terlampaui atau daya reabsorbsi tubulus yang menurun. Glukosuria umumnya berarti diabetes mellitus. Namun, glukosuria dapat terjadi tidak sejalan dengan peningkatan kadar glukosa dalam darah, oleh karena itu glukosuria tidak selalu dapat dipakai untuk menunjang diagnosis diabetes mellitus. Untuk pengukuran glukosa urine, reagen strip diberi enzim glukosa oksidase (GOD), peroksidase (POD) dan zat warna.
 
BAB III
PENUTUP


3.1 Kesimpulan
Pemeriksaan pada sampel urine untuk mengetahui ada tidaknya glukosa pada urine. Pada pemeriksaan sangat dibutuhkan pada ibu hamil, karena pada pemeriksaan ini kita dapat mengetahui resti pada ibu hamil, yaitu DM. Pada hasil pemeriksaan yang mengandung Glukosa dan fruktosa maka memiliki sifat pereduksi sehingga warna benedict berubah. Sedangkan sukrosa tidak memperlihatkan perubahan berarti, karena tidak mempunyai pereduksi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar